Perceraian Dapat Dilakukan Sebelum Pernikahan Resmi

Jika salah satu pihak ditemukan melakukan “porneia” (πορνεία) selama masa pertunangan, perceraian dapat dilakukan sebelum pernikahan resmi berlangsung.

Jakarta, legacynews.id – Pernikahan Kristen bukan sekadar ikatan kontraktual antara dua individu, melainkan sebuah perjanjian sakral yang melibatkan Allah sebagai saksi utama. Dalam Kitab Suci, pernikahan dipandang sebagai institusi ilahi yang dirancang untuk mencerminkan hubungan antara Kristus dan gereja-Nya. Oleh karena itu, keharmonisan dan kesetiaan menjadi elemen kunci yang harus dijaga dalam pernikahan Kristen.

Kitab Suci menekankan pentingnya keharmonisan dalam pernikahan melalui berbagai ayat. Misalnya, dalam Efesus 5:22-33, Paulus menggambarkan hubungan suami-istri sebagai cerminan hubungan antara Kristus dan gereja. Suami diminta untuk mengasihi istri mereka seperti Kristus mengasihi gereja, sementara istri diminta untuk tunduk kepada suami mereka dalam kasih. Keharmonisan ini dicapai melalui saling pengertian, pengorbanan, dan cinta kasih yang tulus.

Kesetiaan dalam pernikahan juga ditekankan dalam Alkitab. Dalam Maleakhi 2:14-16, Tuhan menegur umat Israel karena ketidaksetiaan mereka dalam pernikahan. Tuhan membenci perceraian dan menginginkan agar pasangan tetap setia satu sama lain. Kesetiaan ini bukan hanya dalam hal fisik, tetapi juga emosional dan spiritual.

Perceraian Dilakukan Sebelum Pernikahan

Pada zaman Yesus, perceraian adalah praktik yang relatif umum di kalangan orang Yahudi. Namun, Yesus menegaskan kembali ajaran tentang kesucian pernikahan dan menentang perceraian kecuali dalam kasus perzinaan. Dalam Matius 19:3-9, Yesus menjelaskan bahwa sejak awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan menghendaki mereka untuk menjadi satu daging. Perceraian, menurut Yesus, adalah pelanggaran terhadap kehendak Tuhan.

Kata Yunani yang digunakan untuk perceraian dalam konteks ini adalah “apoluo,” yang berarti melepaskan atau membebaskan. Dalam konteks pernikahan, ini merujuk pada tindakan memutuskan ikatan pernikahan. Namun, Yesus menekankan bahwa tindakan ini tidak sesuai dengan rencana Tuhan kecuali dalam kasus perzinaan.

READ  Chick-fil-A Resto Siap Saji Ayam Pilihan Para Pengunjung Gereja

Dalam Matius 5:32 (TB) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah dalam bahasa Yunani: “Λέγω δὲ ὑμῖν ὅτι ὃς ἂν ἀπολύσῃ τὴν γυναῖκα αὐτοῦ παρεκτὸς λόγου μοιχείας (porneia) ποιεῖ αὐτὴν μοιχᾶται (moichatai);

Dalam frasa “Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah,” kata “zinah” diterjemahkan dari kata Yunani “πορνεία” (porneia). merujuk pada tindakan atau perilaku seksual yang dianggap tidak bermoral, untuk menggambarkan berbagai bentuk hubungan seksual yang melanggar norma-norma sosial atau keagamaan.

Dalam budaya Yahudi kuno, pertunangan dianggap sebagai bagian dari pernikahan, meskipun belum ada hubungan seksual. “Zinah” merujuk pada pelanggaran kesetiaan yang diharapkan selama masa pertunangan. Kata ini merujuk pada tindakan percabulan atau hubungan seksual yang tidak sah, menjadi satu-satunya alasan yang dibenarkan untuk perceraian menurut ajaran Tuhan Yesus Kristus.

Dalam frasa “ia menjadikan isterinya berzinah,” kata “berzinah” berasal dari kata Yunani “μοιχᾶται” (moichatai). Kata ini lebih spesifik merujuk pada tindakan perzinahan, yaitu hubungan seksual yang melibatkan setidaknya satu pihak yang sudah menikah. Menceraikan istri tanpa alasan yang sah (kecuali karena porneia) dianggap membuat istri tersebut terlibat dalam perzinahan jika ia menikah lagi. Ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah ikatan yang sakral dan tidak boleh diputuskan sembarangan.

Dalam frasa “siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah,” kata “berbuat zinah” juga berasal dari kata Yunani “μοιχᾶται” (moichatai). Ini menunjukkan bahwa orang yang menikahi perempuan yang diceraikan tanpa alasan yang sah juga dianggap melakukan perzinahan.

Tuhan Yesus Kristus menyatakan bahwa perceraian diperbolehkan jika terjadi “πορνεία” (porneia). Ini menunjukkan bahwa pelanggaran seksual yang serius dapat menjadi alasan yang sah untuk perceraian. Jika salah satu pihak ditemukan melakukan “porneia” (πορνεία) selama masa pertunangan, perceraian dapat dilakukan sebelum pernikahan resmi berlangsung. Ini tercermin dalam kisah Yusuf dan Maria, di mana Yusuf berencana untuk menceraikan Maria secara diam-diam ketika mengetahui bahwa Maria mengandung sebelum mereka menikah (Matius 1:18-19).

READ  Squid Game Drama Korea Baru Netflix Sangat Brilian dan Berbahaya

Kata Yunani “mnesteuo” digunakan untuk menggambarkan pertunangan. Ini menunjukkan komitmen yang serius dan mengikat, meskipun belum mencapai tahap pernikahan penuh. Dalam kasus Yusuf dan Maria, penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa pertunangan mereka sudah dianggap sebagai ikatan yang sah, sehingga memerlukan tindakan perceraian untuk membatalkannya.

Sebagai konselor pernikahan Kristen, penting untuk menekankan nilai-nilai Alkitabiah tentang pengampunan dan kasih serta keharmonisan dan kesetiaan dalam pernikahan. Pasangan harus didorong untuk melihat pernikahan sebagai perjanjian sakral yang melibatkan Tuhan. Dalam kasus di mana perceraian dipertimbangkan, penting untuk memahami konteks dan alasan yang sah menurut Alkitab, seperti dalam kasus “porneia.” Dengan demikian, konseling dapat membantu pasangan untuk mengatasi tantangan dan membangun pernikahan yang kuat dan berpusat pada Kristus.

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan | Dosen | Fasilitator Bapa Sepanjang Kehidupan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*