Pada periode ini, pendapatan negara tumbuh 37,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp219 triliun. Pendapatan negara hingga Februari 2022, tambahnya, ditopang penerimaan perpajakan yang mencapai Rp256,2 triliun atau tumbuh 40,9 persen.
Jumlah itu terdiri atas penerimaan pajak Rp199,4 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp56,7 triliun. Adapun dari sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasinya mencapai Rp46,2 triliun atau naik 22,5 persen (yoy).
“Kalau kita lihat, pendapatan negara tinggi. Ini menggambarkan pemulihan ekonomi cukup kuat. Selain itu, harga komoditas yang melonjak memberikan kontribusi ke pendapatan negara,” tuturnya.
Sri Mulyani mengakui, belanja negara hingga Februari 2022 belum optimal, karena realisasinya baru Rp282,7 triliun setara dengan 10,4 persen dari pagu Rp2.714,1 triliun. Jumlah itu turun 0,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 282,9 triliun.
Di sisi lain, Menkeu menyebutkan, realisasi anggaran program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) mencapai Rp22,6 triliun per 25 Maret 2022 atau lima persen dari pagu tahun ini Rp455,62 triliun. “Ini harus dipacu, karena kita sudah masuk bulan ketiga,” kata dia.
Program PC-PEN yang memiliki anggaran Rp455,62 triliun bertujuan mendukung penanganan pandemi Covid-19 dan perlindungan kepada masyarakat terdampak serta pemulihan perekonomian dengan memperluas penciptaan lapangan kerja.
Kinerja APBN selama Februari yang memberikan rasa optimisme perekonomian ke depan, terutama pada kuartal I-2022. Disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu di kesempatan yang sama, Kemenkeu optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2022 bisa berkisar lima persen.
Pemulihan yang makin kuat ini tecermin dari sejumlah indikator yang secara konsisten menunjukkan adanya pemulihan daya beli masyarakat. Keyakinan konsumen masih berada di level optimis serta indeks penjualan retail untuk Februari yang tumbuh 14,5 persen.


Leave a Reply