APBN Antisipasti Perkembangan Global Yang Dinamis

/script>

“Kita optimis meskipun tahun 2022 kita diawali Omicron pada Januari dan Februari, sekarang kita lihat sangat baik perkembangannya, kita masih melihat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2022 masih cukup kuat di sekitar lima persen,” ujarnya.

Dari sisi investasi, konsumsi semen pada Februari tumbuh 2,7 persen secara tahunan, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 10,1 persen. Selain itu, penjualan mobil niaga juga tumbuh 31,5 persen pada bulan lalu. Pertumbuhan penjualan alat berat juga melonjak 146,5 persen untuk periode Januari.

Peningkatan pada penjualan alat berat ini disertai impor barang modal yang tumbuh dua digit sehingga memberi sinyal menguatnya PMTB (investasi) di sektor mesin dan peralatan lainnya.

Begitu juga konsumsi listrik untuk industri juga tumbuh 14,1 persen. Febrio mengatakan, pemulihan dari berbagai sektor usaha juga semakin terlihat.

Optimisme ini tecermin dari setoran pajak dari sejumlah sektor seperti perdagangan dan manufaktur yang juga tumbuh. Setoran pajak dari industri pengolahan tumbuh 37,3 persen secara tahunan pada dua bulan pertama tahun ini, jauh di atas pertumbuhan periode yang sama 2021 dengan pertumbuhan 3,3 persen.

Setoran dari sektor perdagangan yang tumbuh 50,1 persen juga jauh di atas realisasi 2021 yang terkontraksi 5,1 persen. Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada periode April–Juni.

“Pada kuartal kedua mungkin kita harus betul-betul melihat momentumnya, guncangan harga komoditas sangat tinggi,” ujarnya dalam acara yang sama.

Meski demikian, dia berharap adanya momentum Ramadan dan Idulfitri bisa mengimbangi risiko tersebut. Mobilitas yang semakin longgar menuju Ramadan dan Idulfitri diharap bisa mendongkrak konsumsi masyarakat.

READ  Tantangan APBN Dalam Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*