Proyek SS-1 dimulai pada 2016 silam, diawali dengan Workshop Ground Station bersama ORARI. Mock-up satelit pun rampung pada tahun 2018 dengan misi komunikasi amatir. Setra, selaku ketua tim SS-1, mengatakan bahwa biaya pembuatan satelit nano sekitar Rp3 miliar termasuk bantuan komponen satelit dari pihak PSN.
Sementara itu, Menkominfo Johnny G Plate dalam konferensi pers peluncuran satelit nano di Jakarta, 25 Oktober 2021, mengatakan bahwa pemerintah mendukung secara sungguh-sungguh inovasi satelit di Indonesia. Karena hingga 2030 mendatang dibutuhkan kapasitas satelit sekitar 900 gigabyte (GB)-1 terabyte (TB) per second dari saat ini 50 GB per second yang dipasok dari 9 satelit, yakni dipasok 5 satelit telekomunikasi nasional dan menyewa pada 4 satelit asing.
Indonesia juga sedang menyiapkan Satria-1, satelit berkapasitas 150 TB per second. “Dengan kebutuhan sebesar itu diperlukan orkestrasi kebijakan yang konsisten sehingga Indonesia tidak tertinggal dalam riset dan pengembangan satelit termasuk satelit nano,” kata Johnny.
Kemenkominfo sebagai pengguna teknologi satelit, mendukung pengembangan satelit nano yang tak kalah penting dibandingkan satelit besar lainnya. Kemenkominfo turut membantu menerbitkan perizinan filling orbit satelit pada International Telecommunication Union (ITU) untuk SS-1.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply