![]()
Jakarta, legacynews.id – Fear of Missing Out atau FOMO adalah kecemasan sosial karena seseorang takut tertinggal tren, informasi, relasi, atau pengalaman yang sedang ramai di media sosial. Fenomena ini menguat sejak media sosial menjadi ruang utama interaksi global pada 2010-an. Anak dan remaja melihat kehidupan orang lain melalui Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai aplikasi pesan. Mereka lalu membandingkan diri. Mereka merasa harus selalu tahu, selalu hadir, selalu mengikuti tren, dan selalu terlihat berhasil.
Kajian psikologi digital menjelaskan FOMO sebagai dorongan untuk terus terhubung dengan aktivitas orang lain. Przybylski dan rekan-rekan menempatkan FOMO sebagai masalah regulasi diri, kebutuhan relasi, dan kepuasan psikologis yang tidak terpenuhi.1 Dalam bahasa sederhana, anak yang merasa kurang diterima lebih mudah mencari validasi digital. Ia mengecek notifikasi berulang. Ia takut tidak diajak. Ia gelisah saat tidak membuka gawai. Ia merasa hidup orang lain lebih menarik daripada hidupnya sendiri.
FOMO tidak muncul dari media sosial saja. Ia tumbuh dari gabungan faktor keluarga, pergaulan, budaya prestasi, dan ekonomi digital. Platform digital memang mempercepat perbandingan sosial. Namun rumah sering menentukan daya tahan anak. Anak yang didengar, dihargai, dan dibimbing biasanya lebih kuat menghadapi tekanan digital. Anak yang kesepian, sering dikritik, atau kurang mendapat perhatian lebih rentan mencari pengakuan dari layar.
Di titik ini, peran ayah sangat penting. Kecemasan sosial anak dan peran ayah di era media sosial perlu ditangani secara serius dan berkesinambungan. Ayah bukan hanya pencari nafkah. Ayah adalah pendidik emosi, penanam nilai, pelatih disiplin, dan penjaga arah hidup anak. Anak membutuhkan ayah yang hadir secara fisik dan emosional. Kehadiran ayah memberi rasa aman. Rasa aman membuat anak tidak mudah panik saat tertinggal tren. Ia tahu bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, komentar, atau undangan sosial.
Ayah berfungsi sebagai model penggunaan teknologi. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari contoh. Jika ayah terus memegang gawai saat makan, anak akan meniru. Jika ayah mampu meletakkan gawai, mendengar cerita anak, dan memberi perhatian penuh, anak belajar bahwa relasi nyata lebih bernilai daripada notifikasi. Ayah juga perlu membangun percakapan rutin. Tanyakan apa yang anak lihat di media sosial. Tanyakan apa yang membuatnya cemas. Jangan langsung menghakimi. Dengarkan lebih dulu. Setelah itu, arahkan dengan kasih dan akal sehat.
Pencegahan FOMO perlu dilakukan melalui kebiasaan kecil yang konsisten. Keluarga dapat membuat aturan waktu layar, jam bebas gawai, dan ruang percakapan harian. Anak perlu diajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia perlu memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua pengalaman orang lain harus ditiru. Tidak semua unggahan menunjukkan kenyataan. Literasi digital harus berjalan bersama literasi iman, karakter, dan emosi.
Pemulihan anak dari FOMO memerlukan pendekatan yang sabar. Ayah dapat membantu anak menyusun ulang ritme hidup. Kurangi paparan media sosial secara bertahap. Ganti waktu layar dengan olahraga, pelayanan gereja, membaca, musik, keterampilan, atau kegiatan sosial. Jika anak mengalami kecemasan berat, gangguan tidur, menarik diri, atau kehilangan minat belajar, keluarga perlu mencari bantuan konselor, psikolog, atau pendamping pastoral yang kompeten.
Gereja dan sekolah juga perlu terlibat. Keduanya dapat membuka ruang edukasi tentang kesehatan digital, identitas diri, dan penguasaan diri. Dalam perspektif Kristen, anak bukan produk pasar digital. Anak adalah pribadi bernilai di hadapan Allah. Karena itu, pemulihan FOMO bukan sekadar mengurangi layar. Pemulihan berarti menolong anak menemukan identitas, panggilan, relasi sehat, dan tujuan hidup.
Kesimpulannya, FOMO adalah gejala zaman yang nyata. Ia menghubungkan teknologi, psikologi, keluarga, dan budaya. Pencegahannya tidak cukup dengan larangan. Anak membutuhkan pendampingan. Ayah memiliki mandat penting untuk hadir, mendengar, memberi teladan, menetapkan batas, dan memulihkan rasa percaya diri anak. Saat ayah hadir dengan kasih dan disiplin, rumah menjadi benteng pertama melawan kecemasan digital.
Pro Ecclesia Et Patria

Leave a Reply