Proyek lapangan gas unitisasi Jambaran-Tiung Biru. Proyek ini ditargetkan on stream pada kuartal II/2021. PERTAMINA
“Kita mengapresiasi setinggi-tingginya PT Pertamina dan PT Pertamina Cepu. Kita akan terus bekerja sama untuk bisa melaksanakan gas in berjalan dengan baik dan selanjutnya pengiriman gas dari JTB ke industri dan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan,” ujar Tutuka.
Pengembangan Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) diharapkan akan menjadi salah satu calon penghasil gas terbesar di Indonesia dengan perkiraan rampung sesuai jadwal pada Q4 2021. Produksi gas JTB akan mencapai 192 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) yang 100 MMSCFD-nya telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit listrik PT PLN.
Proyek gas dengan nilai Capex USD1,5 miliar ini ke depan akan memasok ketersediaan gas di Pulau Jawa yang cukup besar. Deputi Bidang Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Montty Girianna, yang diwakili oleh Asisten Deputi Migas, Pertambangan, dan Petrokimia Andi Novianto, mengatakan bahwa proyek ini secara ekonomi akan memberi manfaat yang besar, khususnya di Provinsi Jawa Timur.
Pasalnya, alokasi gas JTB nantinya akan menyuplai kebutuhan listrik, industri terutama pupuk, serta industri lainnya seperti keramik dan petrokimia. “Proyek JTB sebagai PSN dengan CAPEX mencapai USD1,5 miliar ini akan memberikan ketersediaan gas di Pulau Jawa yang sangat besar sehingga dapat meningkatkan peningkatan perekonomian baik secara regional maupun nasional, terutama terhadap masyarakat dan dunia usaha,” kata Andi ketika melakukan kunjungan kerja ke JTB di Desa Bandungrejo, Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (11/6/2022).
Pemerintah terus memonitor dan mendorong agar proyek yang dioperatori PT Pertamina EP Cepu (PEPC) ini dapat segera dilakukan commissioning dan selanjutnya beroperasi penuh, dengan tetap mengedepankan keselamatan migas. Proyek JTB juga menghadapi beberapa tantangan di masa pandemi yang telah berjalan lebih dari setahun ini.
Namun demikian Tim PEPC telah menguatkan barisan agar proyek JTB dapat segera on stream akhir tahun ini demi mewujudkan pemenuhan kebutuhan energi nasional. Selain membangun proyek JTB dalam memproduksi gas dari lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru, pemerintah juga membangun fasilitas Pipa Gas Gresik-Semarang (GreSem).
Pipa Gas GreSem merupakan pipa yang dibangun oleh Pertagas sepanjang 272 km dengan diameter 28” dan bersifat open access dengan kapasitas alir 400 MMSCFD. Pipa gas itu mendukung fleksibilitas gas sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang terkoneksi di Pulau Jawa serta sebagai penghubung infrastruktur gas dari barat ke timur Pulau Jawa sehingga menjadi “energy hub” bagi sektor industri. Alhasil, itu dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Jawa dan mendistribusikan gas secara merata.
Rata-rata transportasi gas Pipa GreSem pada tahun 2020 mencapai 268,48 MMSCFD dengan industri pupuk sebagai pengguna terbesar (44%), diikuti pembangkit listrik (26%), dan industri lainnya serta jaringan gas untuk konsumen rumah tangga. Pipa-pipa GreSem dengan nilai CAPEX USD271,5 juta yang telah selesai dibangun seluruhnya mempunyai sumber gas utama dari JTB, Blok Cepu, Alas Tua, dan West Alas Tua. PT Pertagas menyatakan telah siap untuk segera menyalurkan gas dari JTB.
[indonesia.go.id]



Leave a Reply