/script>
PERSPIKUITAS ALKITAB: ALKITAB ITU JELAS DAN MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI
“Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Petrus 3:15-16)
Kita telah memahami bahwa bagi kaum Injil Alkitab bukanlah penyataan diri Allah secara keseluruhan, namun ia merupakan penyataan diri Allah dalam bentuk yang tertulis, yang lengkap, yang diselesaikan melalui karya inspirasi Roh Kudus, tanpa salah dan berotoritas. Alkitab adalah kanon yang tertutup. Alkitab adalah penyataan diri Allah yang merupakan kebenaran yang bersifat utuh dan cukup. Oleh karena itu, Alkitab tidak memerlukan wahyu yang lain atau tambahan wahyu baru. Jadi keunikan Alkitab adalah Alkitab itu jelas dan menjelaskan dirinya sendiri. (Perspikuitas Alkitab)
Dalam kedua ayat di atas 2 Petrus 3:15-16 nampak dengan jelas bagaimana pernyataan dalam satu bagian Alkitab diteguhkan oleh bagian Alkitab lainnya. Rasul Petrus, ketika ia menuliskan hal yang berkaitan dengan keselamatan, ia juga mengatakan bahwa Rasul Paulus dalam tulisannya juga menuliskan hal-hal yang sama.
Dalam teologi ortodoks, prinsip dasar menafsirkan Alkitab (hermeneutika) adalah “Scriptura Scripturae Interpres” (Alkitab menafsirkan Alkitab). Melalui prinsip ini maka kita dapat melihat koherensi dan saling ada keterkaitan dari setiap bagian Alkitab dan semua bagian ini bertemu dengan tema sentral Alkitab yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Allahlah yang memelihara benang merah, kesatuan dan lengkapnya Alkitab.
Jika melihat tentang pewahyuan Firman kepada nabi-nabi Tuhan, seperti yang tertulis dalam Yermia 23:28 “nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar!” Artinya bahwa mereka yang memiliki Firman harus secara bertanggungjawab menyampaikan Firman itu dengan benar juga. Jadi Firman yang menjelaskan Firman. Menyampaikan pesan Alkitab dengan cara memasukkan pemikiran dari luar Alkitab adalah tindakan egois dan merupakan tanda pemberontakan kepada kebenaran.
Itu sebabnya, bagi orang Injili, ketika ia berkhotbah atau orang yang memberitakan Firman Tuhan atau menyusun suatu renungan, ia harus menguraikan Firman Tuhan melalui penelitian/penggalian Alkitab atau eksegese.
“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply