“ETIKA INJILI DAN NILAI-NILAI DI PGLII” – “SIAP MELAYANI TANPA IMBALAN, GAJI ATAU UANG DALAM BENTUK APA PUN” (Bag V)
AD PGLII Pasal 6 Usaha:
Untuk mencapai Tujuan seperti tersebut di atas, maka PGLII berusaha:
1.Membela dan meneguhkan teologi dan etika Injili sesuai kemurnian asas Injili berdasarkan Alkitab.
Kepergian Pdt. Dr. Nus Reimas yang telah melayani di PGLII (PII) selama puluhan tahun telah meninggalkan duka yang mendalam. Salah satu teladan yang diwariskan mengikuti jejak warisan para pengurus PGLII sebelumnya bahkan sejak PGLII berdiri adalah, ucapannya yang kerap berkata: “Berpuluh tahun saya melayani di PGLII tak pernah satu kali pun menerima gaji atau imbalan dalam bentuk apa pun, bahkan uang untuk nama apa pun, tetapi pemeliharaan Tuhan sungguh nyata saya dan keluarga tidak pernah berkekurangan“. Inilah ungkapan kesetiaan dan integritas yang menjadi ciri di PGLII.
Sejak PGLII berdiri, operasional pengurus PGLII yang bertanggung jawab menjalan tugas tanpa letih tak pernah mendapat imbalan, gaji atau uang dinas secara rutin atau bentuk apa pun di PGLII. Pengurus mengandalkan uang iuran dari anggota PGLII yang jumlahnya di bawah 50% dari jumlah anggota. Namun, kuasa Tuhan Yesus yang memelihara kehidupan para pengurus dan memberi kemajuan signifikan bagi PGLII adalah bukti bahwa PGLII dan pengurus yang mampu melayani dengan baik bukan karena uang.
Uang adalah akar dari segala kejahatan.
Jika pengurus PGLII, dengan alasan apa pun, terang-terangan atau diam-diam, mendapat uang dengan istilah apa pun, maka pencemaran terhadap panggilan, etika Injili dan nilai-nilai yang kokoh dipertahakan di PGLII telah dikhianati, bahkan motivasi melayani di PGLII bukan lagi motivasi melayani seorang pelayan Kristus yang siap dan rela mengorbankan hidupnya, waktunya dan uangnya.
Puluhan tahun lalu saya membuat suatu renungan harian yang mengulas perjuangan dan pengorbanan para pengurus PGLII. Demi tugas dan panggilan harus terus berjalan, para pengurus harus keluarkan uang pribadi, tiket pesawat, karcis kereta atau bus menuju tempat pelayanan, rapat antar kota bahkan pertemuan di berbagai kota, tanpa satu rupiah pun mendapat imbalan atau pergantian dari uang kas PGLII.
Etika Injili telah menjaga nilai-nilai panggilan dan marwah PGLII sehingga dapat bertahan dan bekembang lebih dari separuh abad.
Satu saat pengurus bertemu para jurnalis Kristen di suatu lokasi di Jakarta, beberapa pertanyaan diajukan, “Seberapa banyak asset properti PGLII yang dimiliki?”, dengan lantang pengurus menjawab. “PGLII hanya memiliki satu ruko yang langganan banjir di kompleks Greenville, Jakarta Barat”. Lain kesempatan, jurnalis bertanya, “Apakah pengurus mendapat jaminan kesejahteraan hidup, rumah dinas dan uang pensiun?” Pengurus tanpa sungkan menjawab, “Kami dipanggil Kristus bukan karena adanya imbalan apa pun”.
Berpuluh tahun, para pengurus telah membuktikan mampu menjaga marwah PGLII, berjuang sampai kematian menjemputnya, untuk mewariskan etika Injili dan nilai-nilai yang membuat PGLII selalu berbeda.
Salam Injili,
Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.
Ketua MAPER PGLII
Majelis Pertimbangan – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply