GEREJA DAN KUBUR SEBAGAI MONUMEN KEMATIAN

/script>

1 Tawarikh 29:3 (TB)  Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri

Beberapa kali berada di wilayah Kristen di Indonesia, kawan-kawan hamba Tuhan yang menemani kerap mengajak jalan ke beberapa tujuan, dan kerap melewati kubur Kristen yang mewah.

Ada hamba Tuhan yang mengatakan: “Pak Ron, kuburan di sini mewah dan mahal-mahal!” Di kemudian di waktu hamba Tuhan yang lain berkata: “Oh kuburan di sini seperti bersaing siapa yang paling mahal membangunnya!”. Hamba Tuhan lain lagi berkata: “Upacara kematian dan penguburan di wilayah kami biayanya bisa dari ratusan juta hingga milyaran!”… waaahhhh!

Tapi, juga masih di beberapa wilayah Kristen yang sama, kerap terlihat bangunan gereja besar yang agak kusam, kadang terlihat ruang ibadah yang sepertinya dibiarkan begitu-begitu saja, meski arsitektur bangunan gereja sangat bagus.

Maka terpikirlah, mengapa untuk gedung gereja ada kesan banyak orang Kristen tidak punya minat, karena buat Tuhan Yesus, gereja dibuat megah, berlapis perak dan emas! Sehingga gereja sebagai monumen kehidupan mewujudkan kebesaran Allah dan kecintaan umat Kristen pada rumah ibadah sangat totalitas! Di Eropa banyak terlihat gedung gereja yang anggun dan megah.

Nah, mengapa di Indonesia (tentu tidak di-generalisir) kubur-kubur yang dibangun megah dan mahal-mahal, padahal kubur itu hanyalah monumen kematian?

Mengapa gereja sebagai monumen kehidupan tidak diperlakukan begitu? Mungkin boleh juga bercakap-cakap dengan Raja Daud yang membangun rumah Allahnya dengan emas dan peraknya sendiri.

Salam Injili 

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

READ  Pengunjuk Rasa Bakar Gereja Dan Rusak Rumah Di Pakistan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*