Indonesia Pilih Dassault Rafale Generasi Jet 4.5 Mutakhirkan Kekuatan

Amerika tidak mau membiarkan Uni Soviet  unggul dengan MIG-21-nya. Tidak lama setelah  MIG-21 masuk arena, AS meluncurkan pesawat Jet F-4 Phantom yang sangat legendaris, bahkan diproduksi sampai lebih dari 5.200 unit dan baru dipensiun di pertengahan 1990-an. Sebagai jet generasi 3, F-4 Phantom itu sangat populer dan superior di era Perang Vietnam (1966–1973).

Phanton amat lincah, cepat, dan memiliki avionik yang canggih. Ia membawa rudal (udara ke udara) seperti AIM-7 dan Sparrow yang dikendalikan dengan frekuensi radio. Rudal itu mampu ‘’mengunci’’ lawan dan membidiknya dengan presisi tinggi. Uni Soviet memproduksi tandingannya yakni MIG-23 dan Sukhoi Su-22. Industri Aviation Prancis pun mulai unjuk gigi dengan jet andalannya Mirage-III yang meramaikan persaingan di jet generasi 3.

Kekuatan udara Indonesia yang disegani di Asia Tenggara pada paruh pertama dekade 1960-an cepat memudar. Perubahan politik pasca-Tragedi 1965 membuat hubungan Indonesia dan Uni Soviet jadi dingin. Pasokan suku cadang MIG-15, MIG-17, MIG-19,  dan MIG-21 macet. Memasuki tahun 1970-an, pengoperasian seluruh pesawat buatan Uni Soviet itu dihentikan. Sebagai gantinya, Indonesia membeli satu skadron F-86 Sabre dari Australia.

Indonesia kembali ke generasi jet tempur Generasi 1. Skadron F-86 Sabre mulai dioperasikan 1973 dan berpangkalan di Lanud Iswahyudi, Madiun. Kesempatan memodernisasi pesawat tempur baru muncul pada 1980 dengan kedatangan beberapa unit jet F-5E Tiger, varian yang merupakan penyempurnaan F-5 Tigershark. F-5E Tiger ini termasuk generasi 3 yang setara dengan F-4 Phantom, Mirage-III dan MIG-23.

Memasuki 1982, satu skadron penuh (16 unit) F-5E Tiger dari Generasi 3 beroperasi secara penuh di Madiun. Skadron ini menjadi legenda tersendiri karena bertahan hingga 2017, saat semua pesawat F-5E Tiger memasuki masa pensiun  setelah bertugas selama 35 tahun. Namun, F-5E Tiger ini tak lama menjadi maskot di Lanud Iswahyudi Madiun. Pada 1989, di tempat yang sama hadir legenda baru F-16 Falcon dari generasi 4.

READ  Masyarakat Mendapat Potongan Harga Sebesar Rp7 Juta

Dikembangkan pada awal 1970-an dan diproduksi sejak  1976, F-16 benar-benar cepat membangun reputasi tinggi. Popularitasnya melampaui jet tempur dari genenerasinya seperti F-14 Tomcat, F/A-18 Hornet, F-15 Eagle, Mirage-2000 (Prancis), Tornado (konsorsium Eropa), Sukhoi Su-27, MIG-29, MIG-31, dan sejumlah lainnya. Generasi 4 ini dicirikan dengan avioniknya yang canggih, radar yang presisi, dan bisa dioperasikan dengan serba komputer. Senjata andalannya adalah rudal-rudal yang dikendalikan oleh frekuensi radio, laser, infrared pencari panas (heat seeker), atau bahkan GPS.

Tak puas dengan Generasi 4, sejak 1990-an Amerika dan Rusia memelopori era Generasi 5 dengan ciri fisik sebagai pesawat siluman (stealth) yang tak mudah dideteksi radar lawan. Tak hanya serba aerodinamis, desain jet generasi 5 itu juga meminimalisir bentuk garis-garis lurus dan bentuk kotak yang membuatnya mudah terdeteksi radar. Ia tak perlu lincah bermanuver untuk dogfight, karena bisa melumpuhkan lawan dari jarak jauh. Yang penting mampu memanggul senjata sampai berton-ton.

Avioniknya sangat canggih dan terkoneksi dengan komputer di darat dan satelit. Radarnya mampu memancar ke berbagai arah, sehingga ia mampu membidik beberapa pesawat lawan sekaligus. Dia bisa merudal kapal perang, pesawat tempur sekaligus arsenal musuh. F-22 Raptor dan F-35 Lighting adalah raja pada generasi 5 ini, dan Su-57 (Rusia) dan Chengdu J-20 (Tiongkok) berada di bawah bayang-bayangnya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*