KEMAHAKUASAAN ALLAH BERJALAN BERSAMA DENGAN …

/script>
KEMAHAKUASAAN ALLAH BERJALAN BERSAMA DENGAN KEHENDAK ALLAH
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.” (Habakuk 1:2-3)
Allah berkuasa sepenuhnya di surga dan dibumi. Ia maha kuasa untuk mencipta, memelihara dan memulihkan ciptaan-Nya. Kemahakuasaan-Nya melebih dan mengatasi segala sesuatu. Namun Allah dalam kemahakuasaan-Nya tidak menerapkan kemahakuasaan-Nya untuk selalu memperbaiki hal-hal tertentu yang buruk. Termasuk juga bahwa Ia tidak selalu mengintervensi perjalanan/proses terjadinya peristiwa-peristiwa penindasan, penganiayaan, dan kekerasan seperti yang dikeluhkan Habakuk dalam doanya di atas.
Kemahakuasaan Allah harus dipahami berjalan bersama dengan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah kemauan Allah untuk menerapkan tindakan-Nya. Kehendak Allah tidak dipengaruhi oleh apa pun. Hal itu berada pada diri Allah sendiri. Oleh karena itu berkaitan dengan keluhan-keluhan Habakuk, tampak jelas bahwa Allah dalam kehendak-Nya tidak segera melakukan intervensinya untuk menghentikan penindasan tersebut.
Untuk memahami hal-hal di atas, ada 2 hal yang harus dipahami.
  1. Bahwa perjalanan/proses dari tiap peristiwa dan kejadian mempunyai tujuannya masing-masing, dan segala sesuatu diarahkan Tuhan untuk tujuan akhir yang Ia telah tetapkan.
  2. Bahwa tidak ada peristiwa atau kejadian yang berjalan secara liar dan tak terkontrol oleh Allah, serta berjalan sendiri-sendiri.
Keluhan-keluhan Habakuk didengarkan Tuhan. Bahwa penindasan, penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang jahat dari bangsa Yehuda dibalaskan Tuhan dengan mengganjar bangsa Yehuda yang jahat itu melalui penyerangan dan penawanan bangsa Kasdim/Babel. Dan bangsa Yehuda terbuang ke Babel. Peristiwa selanjutnya, setelah 70 tahun dalam pembuangan di Babel, Tuhan mengembalikan bangsa Yehuda ke tanah perjanjian mereka.
Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya.” (Yer. 25:11)
Kemahakuasaan Allah berjalan bersama dengan kehendak Allah, nampak juga dalam doa Tuhan Yesus di taman Getsemani. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mar. 14:36)
Kedaulatan Allah berhubungan tujuan akhir yang Ia telah tetapkan. Memang Allah berdaulat atas segala sesuatu, namun segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini, berhubungan dengan tujuan akhir yang Allah kehendaki. Yesus harus meminum cawan itu artinya menanggung hukuman dan mati disalib, karena Allah bertujuan agar manusia diselamatkan melalui pengorbanan Yesus.
Allah memang maha kuasa, namun sekaligus dalam Ia melaksanakan segala sesuatu dalam kemahakuasaan-Nya akan sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.

“Teruslah Bersekutu dan Memberitakan Injil!”

READ  JANGAN IRI DENGAN KEHIDUPAN SEMU ORANG FASIK

 

Pdt. Tommy Lengkong, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*