/script>
“… Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” (Efesus 6:18)
Dalam perjuangan rohani, berdoa dikaitkan dengan berjaga-jaga. Berjaga-jaga adalah suatu kewaspadaan supaya dalam perjuangan kita, kita dapat tetap tegak berdiri dan tidak jatuh dalam pencobaan.
Hal ini dapat kita lihat dalam Efesus 6:18 di atas ketika Paulus menggunakan istilah berdoa dan berjaga-jaga. (bd. Kol. 4:2) Jika kita mendalami teks dalam ayat ini, maka kita menemukan secara sintaktif bahwa konteks penggunaan kata-kata “berdoa” dan “berjaga-jaga” adalah berkaitan dengan kata kerja dari nasihat utama dalam Efesus 6:14, “berdirilah tegap” (Yun: histemi yang berbentuk imperatif)
Dalam perjuangan rohani, “prajurit Kristus” harus berdiri tegap dalam kondisi apapun. Hal demikian juga kita dapat lihat dalam penegasan Tuhan Yesus kepada 3 orang muridNya, ketika mereka diajak Yesus bersama Dia berdoa di Getsemani. Tuhan Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26:41).
“Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Lukas 22:46). Juga sebelum di Getsemani, Tuhan Yesus juga berkata : Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk. 21:36)
Sangat jelas, bahwa berdoa dengan berjaga-jaga bertujuan supaya kita tetap berdiri tegap, sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Orang Kristen banyak “tertidur” dalam doa mereka, sehingga begitu mudah mereka terperdaya oleh bujukan si jahat dan jatuh dalam pencobaan. Mereka menjadi begitu lemah dan kurang memiliki kepekaan rohani terhadap tipu muslihat si jahat.
Berdiri tegap hanya dimungkinkan ketika kita memberi banyak waktu untuk berdoa dan hidup dalam Firman Tuhan. Masihkah kita berdoa dan berjaga-jaga?
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply