
“Sorotan negatif tentang Ponpes Al-Zaytun yang dianggap memperjuangkan ideologi tertentu itulah yang sebetulnya melatarbelakangi kami rombongan PEREKAD dan PEWARNA yang memang selama ini sudah bermitra bahkan memberikan penghargaan kepada pimpinan Ponpes Al-Zaytun sebagai figur Penjaga Keberagaman, terus berupaya menjembatani untuk berkomunikasi, bahkan berkunjung ke ponpes untuk melihat langsung seperti apa sesungguhnya yang dikerjakan Ponpes Al-Zaytun,” tambah Yusuf serius.
Hampir semua peserta yang berjumlah 23 orang saat perjamuan makan siang dengan sajian yang hampir semua produk Ponpes Al-Zaytun ini, tiba-tiba hadir Syaykh Panji Gumilang dengan peci panjangnya menyapa ramah dan seketika berbaur akrab dengan tim yang sedang menikmati jamuan, bahkan dikatakan hampir selesai makan.

Unik dan menarik karena masih melihat sajian di meja makan Syaykh seketika mengambil mangkuk nasi dan melayani tamu satu persatu sembari makan sampai kenyang, jangan ada yang masih lapar. Berkah Tuhan kita nikmati bersama, sembari berkeliling dari satu tamu ke tamu lain yang sedang makan.
Lukman Panji, penasehat PEWARNA merasa kikuk, biasa melayani kok sekarang malah dilayani, merasa malu ini tambahnya, sembari mengatakan inilah perilaku pemimpin yang tanpa batas dan bergaul bersama-sama.
Duduk Satu Meja
Pertemuan dalam suasana santai satu meja. Syaykh Al-Zaytun dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan mereka. Syaykh memaparkan nilai-nilai dasar negara dan kemandirian Al-Zaytun dalam membangun dan mengelola pesantrennya serta menjawab beberapa pertanyaan seputar Al-Zaytun.

“Duduk seperti ini saja sudah toleran” ungkap Syaykh kepada para tamu ramah. Setelah mendengar berbagai pertanyaan dari yang hadir, yaitu Pdt. Harsanto Adi Ketua Umum API, Yohanes Handoyo Ketua Umum Vox Point, serta Urip Dwi Premono Ketua Umum PIM dan Waketum PMKIT serta peserta yang duduk melingkar meja besar ini.
Duduk bersama yang lebih diwarnai canda sebagai saudara dalam kemanusiaan, istilahnya Taaruf Kemanusiaan yang harusnya terus dihidupi. Sehingga kotak kecurigaan dan pandangan seseorang atau lembaga hanya berdasarkan berita medsos itu bisa diklarifikasi. “Saya merasakan seperti di Yerusalem, disambut hangat, makan nasi kebuli, roti gandum, suguhan teh tarik dan banyak lainnya,” ungkap Handoyo.


Leave a Reply