Sejumlah pengunjung berjalan di kawasan Museum Benteng Vredeburg, DI Yogyakarta, Selasa (28/6/2022). Antara Foto/ Prasetya Fauzani
Sandiaga yakin dengan penyelenggaraan event–event tingkat dunia, baik musik maupun budaya, dapat mendorong kenaikan jumlah wisatawan ke depannya. “Saya yakin dengan acara besar tingkat dunia seperti G20 dan beberapa acara besar lainnya, baik itu musik dan budaya, kita akan mampu mencapai target. Kami juga sekarang sedang melakukan review dan dalam waktu dekat kami akan berikan guidance kepada industri,” tuturnya.
Terlepas dari data-data di atas yang memberikan gambaran indah bagi pelaku industri pariwisata nasional, mereka harus banyak belajar dari derita selama terjadinya wabah. Mereka wajib menerapkan strategi baru, selain tetap menomorsatukan sisi pelayanan.
Oleh karena itu, pelayanan adalah yang utama dalam meraih pasar wisatawan mancanegara. Seiring pertumbuhan jumlah kunjungan dari luar negeri ke Indonesia.
Di industri perhotelan, misalnya, wajib menonjolkan keunikan makanan Indonesia. Selain tetap menyediakan menu wajib hotel.
Apalagi, tingkat keterisian hotel sudah naik drastis, terutama di daerah-daerah destinasi wisata, seperti Yogyakarta, Bali, dan Labuan Bajo uang sudah mencapai di atas 75 persen.
Bisa jadi tingkat keterisian yang tinggi itu terjadi lantaran masyarakat melakukan perjalanan liburan pascalebaran, rapat, hingga pernikahan. Oleh karena itu, aktivitas promosi wajib ditingkatkan lagi, terutama promo disesuaikan dengan karakteristik negara asalnya bagi wisman.
Bagi Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengingatkan, pelaku industri yang fleksibel tetap diperlukan mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.
Yusran memaparkan, banyak hotel yang menerapkan konsep alam terbuka atau outdoor, terutama di area restoran. Protokol kesehatan pun juga diterapkan secara ketat untuk memberi kenyamanan serta keamanan bagi tamu hotel.
Bicara soal okupansi, PHRI melihat adanya peningkatan dari Januari–Maret 2022 sebanyak 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Mei, tingkat keterisian mengalami peningkatan kembali, mengingat adanya libur lebaran dan cuti bersama yang cukup panjang.
Peningkatan pun terus terjadi lantaran pemerintah memberi pelonggaran terhadap pelaku perjalanan domestik maupun internasional. “Rata-rata nasional, tingkat okupansi perhotelan pada Mei mencapai sembilan persen,” sebut Yusran.
Dari gambaran di atas, adanya indikator pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara dan tingkat penghunian kamar pada Mei 2022 memberikan sinyal bahwa industri pariwisata di dalam negeri sudah menuju pulih. Harapannya, industri pariwisata bisa menunjukkan tren yang terus membaik.
Bila kondisi industri pariwisata secara umum baik, maka tenaga kerja bisa diserap kembali sehingga pertumbuhan perekonomian menanjak kembali.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply