Presiden Joko Widodo (kedua kanan) mengucapkan selamat kepada penerima dan perwakilan penerima Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (12/8/2022). ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan
Sastrawan Produktif
Ajip Rosidi adalah salah satu sastrawan dan budayawan paling produktif yang dimiliki Indonesia. Selama sekitar lima dekade berkecimpung di dunia sastra, ia banyak menulis cerita pendek (cerpen), sajak, esai, saduran, terjemahan, hingga kritik dalam bahasa Sunda maupun Indonesia. Ratusan karya sudah dihasilkannya.
Selain itu, pria kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, pada 31 Januari 1938 itu tercatat pernah menjabat sebagai redaktur, pemimpin dari perusahaan penerbitan, serta pendiri Yayasan Kebudayaan Rancage, yang bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah.
Kendati tidak pernah tamat sekolah menengah atas, Ajip Rosidi dipercaya sebagai dosen, bahkan menerima Gelar Kehormatan bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad).
Bahkan di era 1980-an, Ajip Rosidi diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa-Bahasa Asing Osaka). Selain itu, ia menjadi guru besar luar biasa di Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), di Tenri Daigaku (Universitas Tenri), dan di Osaka Gaidai (Osaka University of Foreign Studies).
Pada 2001, bersama beberapa sastrawan dan budayawan Sunda, Ajip Rosidi menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda. Terakhir, pada 2008, ia juga menerbitkan autobiografi bertajuk “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan”.
Ajip Rosidi wafat pada 29 Juli 2020 dalam usia 82 tahun karena komplikasi penyakit.
Maestro Jaipongan
Almarhum Gugum Gumbira Tirasondjaja atau dikenal Gugum Gumbira dikenal sebagai penata tari kondang asal Jawa Barat. Dia mengembangkan tari rakyat ketuk tilu hingga menjadi sebuah tontonan menarik yang lebih dikenal dengan tari jaipongan atau jaipong. Berkat tangan dinginnya tari ini sampai dikenal hingga ke mancanegara.
Goyang tari jaipongan merupakan hasil yang paling populer dari studinya memperbarui musik ritual desa bernama ketuk tilu dengan gerakan dari pencak silat, seni bela diri Indonesia, dan musik dari tarian teater bertopeng, topeng banjet, dan teater wayang golek.
Kreasi tari Gugum dibuat di Studio Jugala dan Sanggar Tari Jugala di Bandung yang dikhususkan untuk membuat tari-tarian jaipongan dan orkestra jugala. Orkestra jugala memainkan instrumen gamelan sunda, drum, rebab dan suling, memainkan jaipongan dan musik degung kontemporer.
Meski berkarier sebagai seniman, pria kelahiran Bandung, 4 April 1945 ini juga pernah dipercaya menjabat sebagai Manajer Persib Bandung 2001-2003. Klub sepak bola kebanggaan Bandung dan Jawa Barat.
Gugum Gumbira meninggal dunia dalam usia 74 tahun di RS Santosa Bandung akibat sakit, pada 4 Januari 2020.


Leave a Reply