Sekretaris Umum PGI, Jacky Manuputty yang tampil pemateri terakhir, menegaskan Sabam Sirait tokoh sangat fenomenal. Diakuinya percakapan tentang Pak Sabam tidak akan habis-habisnya. “Kami di PGI sudah membicarakan tokoh ini. Menarik, ia seolah sumur yang ditimba yang tidak habis-habis,” cetusnya.
Ada tiga poin yang bisa sampaikan terkait ketokohan Sabam Sirait. Pertama, Sabam Sirait memberi arah dalam pergulatan nasionalisme. Jelajah pemikirannya sangat luar biasa. Belajar dari TB Simatupang, Amir Syarufuddin, JJ Russo. Dia sosok ideologis, melintasi banyak batas selama 60 tahun berkiprah. Seorang politisi senior yang konsisten memperjuangkan demokrasi.
Kedua, sosoknya berhubungan secara lintas batas. Kemampuan komunikasi yang luar biasa. Tidak terbatas sekat agama dan etnis. Menembusi sekat-sekat perbedaan. Ini jadi catatan mahal karena sekarang ada politisasi agama dan politik identitas, kadang mendorong kekristenan membangun pertahanan sendiri. Tanpa disadari itu justru menutup ruang. Titik temu sebagai seorang nasionalis, Sabam Sirait meletakkan dasar itu. Persahabatan lintas batas kelompok.
Berikutnya, ketiga, Ia tokoh yang memberikan arah kosmopolitan. Dia tokoh menjadi level mancanegara. Sangat mendukung Palestina, menolak berkunjung ke Israel. Juga, terang-terangan membela perjuangan Irak invansi Amerika. “Sabam Sirait berpolitik dengan bersahaja, mengusahakan untuk kemaslahatan semua orang. Kami (PGI) sangat layak memperjuangkannya, kita membutuhkan kepahlawanan wajib diperjuangkan,” pungkasnya.
[Yuno]



Leave a Reply