/script>
“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu : “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Markus 2:10-11
“Anak Manusia” yang menjadi sebutan untuk Yesus dapat dilihat dalam tiga perspektif, yaitu dalam masa inkarnasiNya, dalam penderitaanNya dan dalam perspektif apokaliptis.
Dalam masa inkarnasiNya, Yesus, Anak Manusia merupakan identifikasi bahwa dia adalah manusia sejati dan tinggal bersama manusia. Ia hidup dibatasi oleh tempat dan waktu. Namun Anak Manusia disini tidak hanya berbicara tentang keterbatasan manusia. Yesus adalah Anak Manusia yang ilahi. Salah satu contoh, jika dikaitkan dengan Taurat, Anak Manusia tunduk kepada hari Sabat.
Namun dengan mengidentifikasi diri-Nya juga sebagai Anak Manusia, Yesus tidak takluk kepada hari sabat, bahkan Ia mengatakan, “… Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mar. 2:28) Jika kita memperhatikan ayat sebelumnya yaitu dalam Markus 2:10, ketika Yesus memakai istilah Anak Manusia pertama kali, Ia menegaskan, “… di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Itu berarti bahwa Dia adalah Anak Manusia yang ilahi, yang datang dan hidup di antara manusia, serta menjadi sama dengan manusia, namun Ia berkuasa mengampuni dosa.
Dalam penderitaanNya, Yesus mengidentifikasikan diriNya sebagai Anak Manusia yang menderita. “… Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” (Mat. 17:12b) Penderitaan Anak Manusia adalah berkaitan dengan penebusan. “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mar. 10:45) Istilah tebusan bagi banyak orang berarti menjadi ganti orang lain. Dalam hal ini penggantian (substitusi) yang bersifat soteriologis (menghasilkan keselamatan). Penderitaan Anak Manusia adalah sebagai substitusi dan penebusan dalam konteks soteriologis.
Dalam perspektif apokaliptis, Yesus, Anak Manusia memiliki kedudukan tinggi dan memerintah dalam pengertian apokaliptis atau eskatologis bersama Allah Bapa. “Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.’” (Mar. 14:62) Yesus mengklaim juga bahwa Anak Manusia akan menjadi hakim pada akhir zaman.
“Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh. 5:27-29)
Yesus, Anak Manusia adalah menggambarkan kemanusiaannya, yang mana dalam inkarnasiNya, ia menjadi sama dengan manusia dan tinggal di antara manusia. Ia menderita hingga mati di salib untuk menjadi pengganti penerima hukuman dan penebusan manusia. Ia akan datang kelak menghakimi dan memerintah. Melalui Yesus yang telah menjadi manusia, kita menemukan keselamatan kekal. Beritakanlah hal ini.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply