Sejumlah penumpang pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA881 tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (3/2/2022). ANTARA FOTO/ Fikri Yusuf
“PPLN dapat melakukan karantina di hotel karantina dengan sistem bubble dan non-bubble,” kata Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, dalam Sidang Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin, 21 Februari 2022. Karantina reguler berarti pelaku harus mengisolasi diri dalam kamar hotel tertentu, yang sudah disiapkan, selama tiga hari. Jika dalam tiga hari tidak ada gejala Covid-19, mereka diizinkan melakukan kegiatan wisata sebagaimana biasa.
Opsi keduanya, kata Cok Ace, sapaan Tjokorda Oka Sukawati itu, karantina dengan sistem bubble, yang memungkinkan wisatawan mancanegara beraktivitas di luar kamar tapi masih dalam kawasan hotel karantina, sebuah kawasan yang dalam kaitan pandemi disebut area bubble.
Dalam area bubble itu dijamin bahwa semua kru yang bertugas dalam pelayanan telah divaksinasi lengkap, bahkan telah menjalani booster, dipastikan negatif Covid-19 dan tak diizinkan keluar area bubble selama menjalani tugas. Dalam area bubble juga tersedia dokter serta paramedis. Dengan segala fasilitas itu, biaya karatina bubble relatif lebih tinggi ketimbang karantina reguler.
“Para wisman boleh berenang, belajar mengukir buah, berolahraga dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan,” kata Cok Ace pula. Acara musik live untuk sementara tak tersedia. Namun, dengan lingkungan bergaya resort, wisman tidak akan bosan tiga hari menjalani karantina bubble itu.
Pilihan bubble atau non-bubble sepenuhnya diserahkan kepada para wisman. Tentang pilihan mana yang paling sesuai, menurut Cok Ace, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Denpasar 1 dan pihak PerhimpunanHotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Bali akan merekomendasikannya. ‘’Saat ini Bali memiliki 65 hotel karantina dan 27 di antaranya ialah hotel karantina dengan sistem bubble. Hal ini memberikan opsi kepada PPLN atau wisman,” Cok Ace menambahkan.
Selama dua tahun belakangan ini, dunia pariwisata Bali mengalami pukulan berat akibat pandemi Covid-19 yang datang gelombang demi gelombang. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, Bali sebagai maskot pariwisata Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang tinggi.
Pada 2019, Bali mencatatkan kedatangan wisatawan domestik 9,9 juta dan wisman 6,3 juta orang atau 39 persen dari wisman nasional. Dengan 16,7 juta wisman di 2019, diperkirakan devisa dari sektor pariwisata mencapai USD20 miliar. Pariwisata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bersama minyak sawit (dan turunannya), batu bara, serta migas.
Memasuki 2022 ini, minyak sawit dan turunannya, batu bara, dan migas telah melaju kencang ke pasar ekspor. Tampaknya, sektor pariwisata pun telah mengambil ancang-ancang menyusulnya.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply