
Indonesia Contoh Terbaik
Pramod Kumar Mishra, Sekretaris Utama Perdana Menteri India dalam kesempatan paparan yang dilakukan secara daring dari negaranya mengatakan Indonesia menjadi contoh terbaik (best practice) dari penanganan dan pemulihan bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.
Gempa 9,1 skala Richter yang terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Aceh disusul tsunami menyebabkan sebanyak 221 ribu rakyat Aceh hilang atau meninggal dunia. Puluhan ribu tempat tinggal rusak parah. Saat itu PBB menyatakan gempa di Aceh sebagai yang terparah sepanjang sejarah bencana kemanusiaan.
Dalam perjalanannya, proses penanganan dan rekonstruksi kembali wilayah terdampak di Aceh memerlukan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Indonesia memerlukan waktu delapan tahun untuk proses rekonstruksi Aceh dalam beberapa tahapan. Dimulai dari membangun kembali rumah masyarakat, dilanjutkan dengan pengerjaan infrastruktur, dan terakhir memulihkan ekonomi masyarakat. Data Bank Dunia menyebutkan, biaya sebesar USD7 miliar (Rp102 triliun) yang sebagian merupakan bantuan negara-negara donor serta lembaga internasional digunakan untuk membangun kembali Aceh.
Peraih penghargaan Sasakawa Award 2019 untuk kategori Pengurangan Risiko Bencana itu menyebutkan, Indonesia dapat bangkit dari peristiwa tersebut. “Kita menyaksikan bersama Indonesia sebagai sebuah negara yang pernah dilanda gempa besar diikuti tsunami pada 2004 ternyata mereka mampu menangani dan melakukan pemulihan dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat dunia melalui forum ini dapat belajar bagaimana negara dengan potensi kebencanaan tinggi seperti Indonesia mampu menangani dan memulihkan bencana. Diakui Pramod, bencana tidak bisa dihindari tetapi bisa direduksi dengan berbagai langkah.
Kesiapsiagaan bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan. “Kita harus menyiapkan diri sejak sekarang karena tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi,” ujarnya. Dalam lima tahun terakhir India telah mengeluarkan anggaran hingga USD7,5 miliar (Rp109 triliun) untuk penanganan dan pemulihan bencana alam seperti banjir dan gempa.
India juga telah merancang dan membangun program mitigasi bencana berbasis sains dan teknologi supaya lebih efektif memanfaatkan sumber daya yang ada. India mengembangkan teknologi berbasis citra seperti pemakaian drone untuk memantau daerah rawan bencana dan apabila bencana terjadi.
“Kami juga memanfaatkan teknologi ruang angkasa untuk memetakan kawasan-kawasan di India yang berpotensi bencana. Itu kami lakukan untuk mengurangi dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dari bencana,” katanya.
Tiru Cara Indonesia
Direktur Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Accra Ghana, Charlotte Norman menyebutkan, negaranya kerap dilanda bencana banjir dan yang terbesar adalah pada September 2021 lalu. Ia bersama para pemangku kepentingan di Ghana pascakejadian mulai merancang kegiatan simulasi bencana banjir. Ghana, kata Charlotte, berkaca dari cara Indonesia menyiapkan masyarakatnya agar selalu siaga dengan situasi kebencanaan.
Kemampuan Indonesia dalam menangani bencana termasuk pandemi juga diakui Direktur Eksekutif Badan Manajemen Darurat Bencana Karibia Elizabeth Riley. Ia menyatakan, pihaknya merasakan betul dampak dari pandemi bagi kawasan tersebut. Perekonomian di kawasan pun terkontraksi hingga 12,8 persen dan menjadi lebih merana setelah varian Delta melanda.
Kawasan ini salah satunya bergantung dari pariwisata dan sektor tersebut mendapat terpaan langsung saat pandemi karena berbagai negara melarang warganya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri agar tidak tertular virus corona.
Ia menyebut, Indonesia menjadi salah satu tempat bagi pihaknya untuk belajar soal cara pemulihan, utamanya di sektor ekonomi dan keuangan. Ini terbukti dengan kesanggupan Indonesia menjadi tuan rumah GPDRR di tengah pandemi yang makin melandai. Riley juga melihat, kesanggupan Indonesia menggelar ajang GPDRR di tengah pemulihan pandemi menjadi bukti bahwa Indonesia sudah siap mengendalikan pandemi.
“Kami jauh dari potensi bencana alam, pandemi adalah bencana sesungguhnya. Di sini, kami ingin belajar kepada berbagai negara bagaimana cara mereka melewati ini semua termasuk kepada Indonesia, khususnya dalam upaya pemulihan sosial ekonomi,” ujar Riley.
Sonya, seorang partisipan dari Swedia mengakui, negaranya nyaris tidak mengalami bencana. Tetapi ia hadir di Bali karena ingin melihat dan mempelajari cara Indonesia melewati berbagai ujian bencana. Seperti juga Riley, Sonya pun menilai Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki pengalaman luas dalam mitigasi bencana.
[indonesia.go.id]




Leave a Reply