India dan Tiongkok Menumpuk Stok Batu Bara; Harga Naik

 

Terkereknya permintaan batu bara Indonesia akibat krisis listrik yang menimpa India. Antara Foto/Nova Wahyudi

Selain dari India, sambung Agung, nilai HBA juga masih dipengaruhi atas kondisi kebutuhan batu bara Tiongkok. “Permintaan mereka juga naik lantaran PLTU di sana mulai menumpuk stok batu bara untuk musim gugur. Apalagi adanya kebijakan penghapusan pajak impor batu bara di Tiongkok selama sembilan bulan ke depan,” jelasnya.

Faktor penting lain adalah kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia-Ukraina. Uni Eropa mengeluarkan kebijakan akan menyetop impor batu bara dari Rusia efektif mulai Agustus mendatang. “Pembeli dari Eropa mulai aktif mencari pasokan batu bara dari Asia.”

HBA merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya. Harga patokan HBA menggunakan komoditas batu bara dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, total moisture 8%, total sulphur 0,8%, dan ash 15%.

Agung menuturkan, selama enam bulan terakhir, grafik HBA terus menanjak. Dimulai dari Januari 2022 sebesar USD158,50 per ton, naik ke USD188,38 per ton di Februari. Selanjutnya, pada Maret menyentuh angka USD203,69 per ton, April sebesar USD288,40 per ton, dan terakhir di Mei berada di level USD275,64 per ton.

“HBA Juni ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel),” ujarnya.

Produksi Naik Terus

Bagaimana dengan produksi batu bara? Seiring dengan meningkatnya permintaan batu bara dunia, tren produksi batu bara Indonesia terus meningkat. Tahun ini, target produksi batu bara ditetapkan sebesar 663 juta ton dengan Domestik Market Obligation (DMO) sebanyak 166 juta ton. Bila dilihat trennya selama lima tahun terakhir, produksi batu bara cenderung naik terus.

READ  Laporkan Jalan Rusak via Aplikasi Jalan Kita & LAPOR

Sebagai ilustrasi, mengutip data Ditjen Mineral dan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi batu bara sudah mencapai 557 juta ton dengan DMO sebanyak 155,08 juta ton pada 2018. Pada 2019, produksi naik menjadi 616,2 juta ton, 562,5 juta ton (2020), 606,22 juta ton (2021), 663 juta ton (2022).

Penetapan DMO pun naik di level 133 juta ton (2021) dan 166 juta ton pada 2022. Pemerintah menetapkan skema DMO sebesar 25 persen dari target yang ditetapkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*