/script>
INJIL DIBERITAKAN DENGAN KUASA DAN
KEYAKINAN YANG MENDALAM DALAM ROH KUDUS
“Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.” 1 Tesalonika 1:5
Pemberitaan Injil memang disampaikan dengan kata-kata. Kata-kata adalah alat komunikasi. Namun dalam pengalaman kita, kata-kata itu sendiri sering kali tidak cukup memberikan penjelasan, karena kata-kata itu dapat disalahpahami.
Dalam pemberitaan Injil, ketika kita menguraikan dengan kata-kata tentang Firman yang diberitakan, terasa juga jarang cukup. Selain dapat salah dipahami, namun karena kebutaan dan hati yang keras, maka perkataan-perkataan kita tentang Injil tidak dihargai, bahkan diabaikan.
Contoh dalam Roma 10:16 tertulis, Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi kata-kata yang diucapkan dalam kelemahan manusia perlu diteguhkan dengan kuasa ilahi.
Dalam 1 Tesalonika 1:5 di atas, Paulus menegaskan pemberitaan Injil tidak hanya dalam kata-kata saja, tetapi dalam kuasa, dalam Roh Kudus dan dalam kepastian kokoh (Yun: en plerophoria polle = keyakinan yang mendalam). Kuasa disini tidak dalam pengertian seperti ketika terjadi mujizat, tetapi kuasa internal pemberita.
Pengertian “dalam kuasa”, dalam Roh Kudus” dan “dalam keyakinan yang mendalam” (ketiganya dalam bentuk dativ) adalah bersifat internal. Jadi ketika kita memberitakan Injil, kata-kata yang disampaikan adalah dalam kuasa dan keyakinan yang mendalam oleh pertolongan Roh Kudus.
Itu sebabnya Injil itu dapat menembus pikiran, hati, hati nurani, dan kehendak manusia. Dalam 1 Korintus 2:4-5, Paulus menulis juga hal yang sama, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”
Kita tidak boleh memisahkan apa yang telah “dikawinkan” Allah, yaitu Firman-Nya dan Roh-Nya. Firman Allah adalah pedang Roh. Roh tanpa Firman tidak memiliki senjata; Firman tanpa Roh tidak berdaya.
Kuasa dan keyakinan kita berasal dari pelayanan Roh Kudus. Artinya, keyakinan saat kita mengucapkannya, dan kuasa yang berdampak terhadap orang lain, semuanya berasal dari Roh Kudus. Dialah yang menerangi pikiran kita, sehingga kita merumuskan pesan kita dengan integritas dan kejelasan. Dialah yang mengimpartasikan Injil dalam batin kita, meyakinkan kita akan kebenarannya, sehingga kita memberitakannya dengan keyakinan. Dan dialah yang menyampaikannya dengan kuasa, sehingga para pendengar menanggapinya dalam pertobatan, iman, dan ketaatan.
Dengan demikian ketika kita memberitakan Injil, kita harus mengingat bahwa mereka yang mendengar akan menerima Injil bukanlah karena kata-kata kita yang hebat, tetapi oleh karena Roh Kudus yang memimpin kita dan yang bekerja pada mereka yang mendengar.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy Lengkong, MTh.
Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia


Leave a Reply