Mengembalikan Otoritas Ayah Sebagai Imam Keluarga

Jakarta, legacynews.id – Keluarga adalah institusi pertama dan utama yang dibentuk oleh Allah. Di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks, peran ayah sebagai kepala dan pemimpin rohani keluarga mengalami degradasi. Banyak keluarga kehilangan arah karena absennya figur ayah yang berfungsi sebagai imam. Memahami peran ayah sebagai imam berdasarkan Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah kunci untuk mengembalikan otoritas dan fungsi keluarga sesuai dengan rancangan Allah.

Dalam tradisi Perjanjian Lama, peran ayah sebagai imam sangat menonjol. Jauh sebelum sistem keimaman Lewi dibentuk, kepala keluarga bertindak sebagai imam yang mewakili keluarganya di hadapan Allah. Allah secara khusus memanggil Abraham untuk menjadi pemimpin rohani yang mengarahkan keluarganya. Hal ini ditegaskan dalam Kejadian 18:19 (TB), “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.

Ayat ini menunjukkan bahwa tugas utama seorang ayah adalah memastikan anak-anak dan keturunannya hidup dalam kebenaran dan keadilan sesuai jalan Tuhan. Keteladanan Abraham menjadi prototipe bagi setiap ayah Kristen saat ini. Ayub juga memberikan teladan yang kuat tentang peran imam keluarga. Ayub 1:5 (TB) mencatat kebiasaan Ayub yang secara teratur mempersembahkan korban bakaran untuk menyucikan anak-anaknya, karena ia khawatir mereka telah berbuat dosa. Tindakan ini merupakan bentuk syafaat seorang ayah bagi keluarganya.

Perjanjian Baru tidak menghapus peran ayah sebagai imam, melainkan mempertegasnya dalam konteks pengajaran dan keteladanan kasih karunia. Rasul Paulus memberikan instruksi spesifik kepada para ayah dalam Efesus 6:4 (TB), “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

READ  Seorang Guru Memilih Yesus Daripada Homoseksualitas Setelah Tertular HIV

Perintah ini menempatkan ayah sebagai pendidik utama nilai-nilai kerohanian dalam rumah tangga. Mendidik dalam ajaran Tuhan berarti ayah harus terlebih dahulu memiliki pemahaman firman Tuhan yang benar dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kepemimpinan ayah dalam Perjanjian Baru adalah kepemimpinan yang melayani, meneladani Kristus yang mengasihi jemaat-Nya.

Peran ayah sebagai imam tidak hanya terbatas pada memimpin ibadah keluarga atau berdoa. Fungsi imamat seorang ayah paling nyata terlihat dalam keteladanan hidupnya sehari-hari. Seorang ayah yang berintegritas, jujur dalam bekerja, dan mengasihi istrinya sedang menjalankan fungsi imamatnya.

Hubungan antara ayah dan ibu menjadi fondasi yang menentukan efektivitas peran ayah. Ketika ayah mengasihi dan menghormati ibu, ia sedang mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kasih Kristus kepada jemaat. Kesatuan hati antara suami dan istri menciptakan atmosfer rohani yang sehat bagi pertumbuhan anak. Sebaliknya, konflik yang tidak terselesaikan antara ayah dan ibu akan menghalangi doa-doa mereka dan merusak figur Allah Bapa di mata anak-anak.

Dalam hubungan dengan anak-anak, ayah sebagai imam harus mampu membangun komunikasi yang memberdayakan. Ayah tidak hanya menuntut ketaatan, tetapi juga memberikan kasih sayang, arahan, dan disiplin yang membangun. Keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan inilah yang mencerminkan karakter Allah.

Mengembalikan Otoritas Ayah Sebagai Imam Keluarga

Banyak keluarga saat ini menantikan pemulihan. Namun, kita harus memahami prinsip rohani yang mendasar. Pemulihan keluarga berbeda dengan keluarga dipulihkan, sebab otoritas pemulihan itu ada dalam diri orang yang percaya kepada Kristus Yesus. Artinya, pemulihan tidak terjadi secara pasif. Ayah, sebagai orang percaya yang telah diberi otoritas oleh Kristus, harus secara aktif mengambil kembali peran dan tanggung jawabnya. Ketika ayah melangkah dalam ketaatan dan menggunakan otoritas rohaninya untuk memimpin, memberkati, dan mengajar keluarganya, maka proses pemulihan keluarga sedang terjadi.

READ  Nilai PISA Rendah: Apakah Pendidikan Indonesia Terpuruk?

Mari kita kembalikan peran ayah sebagai imam di tengah keluarga. Bangsa ini membutuhkan generasi yang lahir dari keluarga-keluarga yang kuat secara spiritual. Integritas tidak diwariskan, tetapi ditanamkan. Mari kita tanam benihnya hari ini agar bangsa ini panen kejujuran di masa depan.

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan
Fasilitator Nasional Bapa Sepanjang Kehidupan| Ketua Komisi Infokom PGLII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*