Personel BPBD Kabupaten Bogor menyiapkan perahu karet saat apel siaga bencana di Lapangan Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/9/2022). ANTARA FOTO/ Yulius Satria Wijaya
Awan tanpa La Nina
BMKG pun kembali merilis peringatan akan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia pada 9–15 Oktober 2022. Peringatan ini dikeluarkan pada Sabtu, 8 Oktober 2022, dengan mengacu pada gerakan awan pada skala regional, yakni pada atmosfer di sepanjang Asia Selatan–Pasifik Barat, khususnya di sekitar garis khatulistiwa.
Ada potensi awan besar, menurut BMKG, yang bergerak beriringan di atas langit Indonesia, karena anomali cuaca. Ada fenomena gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), gerakan massa udara basah dari Samudra Hindia ke arah timur menuju Pasifik Barat. Massa udara yang membawa uap air dalam jumlah besar itu bergerak di lapisan atmosfer yang cukup tinggi. Fenomena MJO itu acap kali disebut pula sebagai Indian Ocean Dipole.
Pada saat yang sama, dari arah timur ada gelombang udara ekuatorial Rossby yang bergerak dari Pasifik menuju pantai timur Afrika di lapisan atmosfer yang relatif lebih rendah. Gelombang udara ini terasa pengaruhnya di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Baik gelombang MJO maupun gelombang Rossby ini tidak akan terlalu signifikan pengaruhnya bila tidak berinteraksi dengan cuaca lokal. Suhu laut di sekeliling Indonesia relatif tinggi, yang mengakibatkan adanya konvensi udara lembah ke atas. Ditambah pula, angin monsun ikut ambil bagian. Angin monsunal ini bertiup dari Benua Asia ke Australia seiring dengan siklus posisi matahari.
Faktor La Nina yang biasa ikut nimbrung pada kasus-kasus hujan ekstrem di Indonesia kali ini absen. Indeks La Nina bergerak mendekati nol, sehingga tidak memberikan pengaruh. Namun, kombinasi dari angin barat oleh gelombang MJO, angin timur dari Gelombang Rossby, angin monsun reguler dan arus konveksi akibat suhu laut yang hangat sudah cukup menghadirkan bibit awan-awan yang bisa menebal dan menjadi hujan lebat di berbagai tempat di tanah air.
Dalam rilis BMKG itu dikatakan pula, potensi hujan lebat (beberapa hari) itu bisa muncul di hampir semua provinsi, kecuali Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Timur. Prakiraan itu mengacu pada gambaran aktual tentang arah angin dan citra gerakan awan yang terpantau satelit.
Sebaran Hujan
Di Indonesia ada 342 zona musim. Mimika (Papua), Solok (Sumatra Barat), Baturaden (Jateng), dan Bogor, adalah tempat dengan catatan (rata-rata) curah hujan tertinggi dan hari hujan terbanyak di Indonesia. Curah hujannya dapat mencapai 4.000 mm per tahun atau lebih dengan hari hujan 250 kali dalam setahun.
Pada 2022, sebagian dari 342 zona itu tak sempat memasuki musim kemarau, yang biasa dicirikan dengan curah hujan yang kurang dari 60 mm per bulan. Di Jawa Barat, misalnya, hanya di Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon, kemarau muncul pada Juli dan Agustus. Selebihnya adalah bulan basah dengan curah hujan di atas 100 mm.
Meski terekspos oleh fenomena cuaca regional yang sama, faktor lokal menjadi pembeda. Posisi geografis dan bentang alam setempat memberikan stimulasi yang berbeda dalam proses pembentukan awan hujan. Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTB, dan NTT dikenal memiliki daerah dengan zona musim kering yang panjang.
Maka, pada saat daerah lainnya telah diguyur hujan, tiga daerah NTT malah mengalami kekeringan ekstrem panjang. Di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, misalnya, tercatat 205 hari tanpa hujan. Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, mengalami 88 hari tanpa hujan setetes pun, dan di Kecamatan Baumata, Kabupaten Kupang, sudah 102 hari hujan tak datang. Rekor di Haharu pada 2019 lalu adalah 259 hari tanpa hujan.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply