
Sementara Kyai Tunggul Wulung menilai Janz ingin menguasai orang Jawa, tidak mengerti adat istiadat orang Jawa bahkan mau menjadikan orang Jawa sebagai orang Eropa. Kyai Tunggul Wulung tidak cocok dan tidak suka dengan cara-cara yang dilakukan Janz yang dianggap terlalu keras kepada orang Jawa.
Karena perbedaan itu mereka akhirnya jalan sendiri-sendiri. Namun yang menarik dari keduanya adalah metode pekabaran Injilnya yang mirip dengan pekabaran Injil di Jawa Timur, yaitu membuat desa dan membangun komunitas Kristen di desa tersebut. Kyai Tunggul Wulung membuka hutan dan berhasil membangun desa Bondo. Itulah desa pertama yang dibangun Kyai Tunggul Wulung. Sesudah itu juga desa Banyutowo dan Tegalombo.
Di desa-desa yang dibangun dari pembukaan hutan oleh Kyai Tunggul Wulung dan pengikutnya tumbuh komunitas Kristen. Mirip dengan desa yang dibangun Coolen di Ngoro Jawa Timur, murid-murid Kyai Tunggul Wulung itu tidak ada yang dibaptis. Sama dengan Coolen pula, Kyai Tunggul Wulung tidak mau murid-muridnya yang Jawa itu “menjadi Belanda” karena dibaptis.
Kalau Tunggul Wulung membuka hutan dan membangun desa di Jepara, Pdt. Janz Junior (anak Pdt. Pieter Janz) membuka hutan di daerah Pati, di desa yang diberi nama Margorejo. Ijin untuk membuka persil itu diberikan oleh Pemerintah kepada DZV tetapi DZV melimpahkannya kepada Pdt. Janz Junior, anak pdt. P. Janz karena Pdt. P. Janz telah dicabut ijinnya untuk mengabarkan Injil karena buku yang ditulisnya. Buku yang isinya mengajak orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil Tuhan Yesus berdasarkan Makus 1: 15 “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada Injil”, dinilai oleh para bupati sebagai buku yang berbahaya karena akan menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam. Persoalan itu sampai kepada Gubernur Jenderal Ch. F. Pahud (1856 – 1861) dan Janz Senior dicabut ijinnya.
Karena dicabut ijinnya, pekerjaan Pdt. Pieter Janza yang sudah sempat membuka sekolah di Jepara diteruskan kemudian oleh anaknya Janz Junior, Pdt. JA Janz. Sekolah yang sudah didirikan di Jepara dipindahkan ke persil Margorejo yang didirikan tanggal 8 Juni 1883. Komunitas Kristen di persil Margorejo itu sangat berbeda dengan komunitas hasil pekabaran Injil Kyai Tunggul Wulung. Di Margorejo, orang yang tinggal di desa itu tidak dipaksa untuk memeluk agama Kristen tetapi diharuskan mengikuti peraturan persil, seperti pada hari Minggu tidak boleh bekerja, anak berusia 6-12 tahun harus sekolah, tidak boleh poligami, tidak boleh mengisap candu, tidak boleh minum minuman keras dan tidak boleh melakukan adat kekafiran serta yang bersifat takhayul. Namun seperti di Ngoro, penduduk desa Margorejo diharuskan membayar pajak sewa tanah. Sementara orang Kristen di persil di luar itu tidak perlu membayar pajak.
Dalam mengembangkan komunitas Kristen Kyai Tunggul Wulung dibantu oleh beberapa orang, di antaranya Sadrah. Mereka dipertemukan di desa Bondo. Ketika itu Sadrah yang aslinya bernama Radin belum menganut agama Kristen. Dia seorang santri dari daerah itu. Ada yang mengatakan bahwa Radin berasal dari daerah Demak, ada pula yang menduga dia berasal dari desa di Pati. Tetapi yang pasti Radin adalah orang Jawa yang ingin belajar ilmu. Mula-mula dia menjadi santri dari Kyai Kusen yang dikenal juga dengan Kyai Sis Kanoman. Setelah selesai nyantri di Kyai Kusen, dia memperdalam ilmunya ke pesantren di Jawa Timur. Waktu belajar itu ia menambahkankan nama Abas di belakang Radin sehingga dikenal dengan Radin Abas. Di Jawa Timur itu ia bertemu dengan Pdt. Jellesma yang mengajarkan kekristenan. Sebagai santri yang sedang mencari ilmu, Radin Abas tidak mudah menerima ajaran Pdt. Jellesma.
Dari Jawa Timur, Radin Abas kembali ke Jawa Tengah menemui gurunya Kyai Kusen. Ternyata kyai Kusen mengaku telah dikalahkan oleh Kyai Tunggul Wulung dan menjadi pengikutnya, masuk Kristen. Radin Abas kemudian dipertemukan dengan Kyai Tunggul Wulung dan menjadi muridnya, membantu di Bondo. Oleh Tunggul Wulung, Radin Abas diperkenalkan kepada guru yang banyak memberi pengetahuan kekristenan, yaitu Mr. Anting. Tetapi ternyata Mr. Anting sudah pindah ke Batavia. Ke sanalah Radin Abas dibawa. Dalam pertemuannya dengan Mr. Anting itulah Radin Abas kemudian belajar kekristenan dan dibaptis sebagai orang Kristen di gereja Sion (sampai sekarang gereja itu masih berdiri kokoh).


Leave a Reply