Napak Tilas Rasul Jawa; Kyai Ibrahim Tunggul Wulung

 

Kyai Ibrahim Tunggul Wulung

 Kyai Tunggul Wulung yang sebelumnya adalah priyayi Mangkunegara yang bernama Tondokusumo. Menjabat sebagai demang di Kediri, ia kemudian terlibat dalam Perang Diponegoro tahun 1825 – 1830. Usai perang Diponegoro ia sempat menyamar dengan nama Achmad Dullah, menjadi pengembara hingga daerah sekitar Gunung Muria, lalu untuk mencari ketenangan jiwa dia bertapa di gunung Kelud. Dalam proses itu dia mendapat secarik kertas yang berisi hukum Tuhan. Dia merasa itulah petunjuk tentang “ngelmu” baru. Maka seturun dari bertapa dia menemui Coolen di Ngoro untuk menanyakan “ngelmu”. Oleh Coolen dia diajar mengenai “ngelmu Kristen”. Dari Ngoro dia pergi ke Mojowarno dan berjumpa dengan murid-murid Coolen yang sudah madeg jadi kyai Kristen. Di situlah ia aktif mengabarkan Injil ke daerah-daerah sekitar Malang: Kepanjen, Dimoro, Penanggungan dan sekitarnya. Bahkan sempat berkeliling sampai Semarang, jepara, Pati bahkan Bagelen. Namun saat itu dia belum dibaptis. Agaknya dia sangat terkesan dengan pengajaran Coolen bahwa menjadi Kristen tidak perlu menjadi orang Belanda, tidak perlu dibaptis, dan tetap menjadi orang Jawa dengan seluruh peradaban dan budayanya! Itu akan terbukti nanti ketika dia mulai mengabarkan Injil di Jepara dan Pati.

Kyai Tunggul Wulung sangat terkesan dengan gaya penginjilan yang dilakukan Coolen, tetapi dia tidak bisa mengelak dari ajaran Pdt. Jellesma bahwa menjadi Kristen harus dibaptis. Ia sempat menjadi murid Pdt. Jellesma dan mendapat pengajaran mengenai 10 Hukum Tuhan, Doa Bapa Kami, dan 12 Sahadat atau pengakuan iman rasuli. Sementara Coolen sudah semakin tua, semakin banyak orang di Ngoro yang minta dibaptis, dan dia tidak bisa menolak keinginan murid-muridnya. Coolen sempat dinasihati oleh Jellesma untuk memberikan “anak-anaknya” dibaptis. Tahun 1873 Coolen menghadap Sang Khalik.

READ  Amanat Agung Efektif Ketika Berada Di Tangan Orang Yang Berani

Demikian juga Kyai Tunggul Wulung, setelah memperoleh  pengajaran dari Jellesma ia dibaptis di Mojowarno tanggal 6 Juli 1957 (ada yang mengatakan tahun 1855 atau 1856), dengan memakai nama baru Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Dengan bekal Kitab Suci yang diberikan oleh Pdt. Jellesma, Kyai Ibrahim Tunggul Wulung meninggalkan Mojowarno dan mulai bebadra, mengabarkan Injil di daerah Jepara dan Pati.  Banyak orang tertarik dengan kekristenan yang diajarkan oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Pengajarannya sangat sederhana, “Gusti Yesus itu juruselamat yang menebus dosa manusia”. Itu ngelmu yang utama yang membawa kepada keselamatan manusia. Ngelmu itu sangat menarik bagi orang-orang Jawa yang memang senang dengan olah batin, yang memahami bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan menuju kepada suatu “paran”. Tuhan Yesus yang ditawarkan dalam ngelmu yang diajarkan Kyai Ibrahim mudah dan cepat diterima oleh masyarakat. Tuhan Yesus adalah Ratu Adil yang akan datang lagi ke dunia, itulah kepercayaan yang diajarkan kepada mereka. Karena itu ketika Kyai Ibrahim Tunggul Wulung mengabarkan Injil di desa-desa sekitar Jepara, Pati, Kudus dan desa-desa di sekitar Gunung Muria. Di sana segera terbentuk komunitas Kristen.

Namun pekabaran Injil yang dilakukan oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung bersamaan waktunya dengan pekabaran Injil yang dilakukan oleh lembaga penginjilan yang datang dari Eropa. Doopegezind Zendeling Vereneging (DZV) sebuah lembaga penginjilan dari Belanda sudah mengirim seorang penginjil ke Jawa yang bekerja di Jepara. Namanya Pdt. Pieter Janz. Ia memulai penginjilan di Jepara tahun 1853. Namun ia menghadapi kesulitan. Tidak mudah baginya untuk mendekati orang Jawa. Karena itu ia meminta tolong kepada Pdt. Jellesma di Mojowarno untuk mengirimkan orang Jawa yang bisa membantunya. Oleh Jellesma dikirim seorang bernama Sem Sampir.

READ  Pekabar Injil Memiliki Ladang Masing-Masing

Dalam melaksanakan pekabaran Injilnya itu P. Janz bertemu dengan Kyai Tunggul Wulung. Mereka sempat bersahabat. Namun masing-masing menjaga jarak. Pdt. Janz menganggap bahwa Injil yang diberitakan Kyai Tunggul Wulung sudah bercampur dengan takhayul dan mistik. Kecuali bahasa Jawa yang diketahuinya, Janz memang tidak paham mengenai kehidupan spiritual orang Jawa. Ia berpikir bahwa kekristenan yang benar adalah kekristenan sebagaimana yang dipahami orang Eropa. Demikian juga perilaku Kyai Tunggul dan murid-muridnya dianggap tidak mencerminkan kehidupan Kristen Eropa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*