Napak Tilas Rasul Jawa; Kyai Ibrahim Tunggul Wulung

Radin Abas dibaptis dan mengganti namanya menjadi Sadrah. Dari Batavia, Sadrah kembali ke desa Bondo membantu Tunggul Wulung membangun komunitas di sana. Ada beberapa komunitas yang harus dirawat oleh Tunggul Wulung, namun Sadrah memilih Bondo sebagai tempat melayani.

Beberapa tahun membantu Kyai Tunggul Wulung, Sadrah berselisih paham dengan gurunya, Kyai Tunggul Wulung. Sadrah kurang begitu cocok dengan gaya hidup Kyai Tunggul Wulung yang ternyata sebelum menjadi penginjil telah memiliki isteri dan anak-anak. Itu terjadi ketika dia menjadi Demang di Kediri sebelum perang Diponegoro. Dari anak-anaknya dia memiliki cucu. Salah satu cucunya bernama Ratiman.

Kyai Tunggul Wulung meninggal Februari tahun 1985 dan pengelolaan komunitas Kristen di desa Bondo, Tegalombo dan Banyutowo diserahkan kepada Ratiman, cucunya. Di bawah pengelolaan Ratiman inilah tiga komunitas Kristen peninggalan Kyai Tunggul Wulung diserahkan kepada DZV. Ratiman merasakan kekurangan atas kehidupan orang-orang Kristen di komunitasnya, karena tidak dibaptis sebagaimana orang Kristen di desa lain. Ratiman yang bersahabat baik dengan Janz Junior dibaptis tahun 1886 dan komunitas itu diserahkan sepenuhnya tahun 1887 dan mereka dibaptis. Ada 368 orang dari tiga desa itu yang dibaptis oleh Janz Junior. Ratiman diangkat menjadi guru Injil

Lalu bagaimana dengan Sadrah? Tunggu tulisan berikutnya!

[slompretjawadwipa – Yuno]

READ  Layanan Kesehatan Khususnya Jemaah Lansia Di Tanah Suci

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*