“Semua itu berkat akselerasi program vaksinasi, keberlanjutan program perlindungan sosial, serta pelaksanaan layanan publik pemerintah.”
Pemerintah diyakini sangat paham bagaimana mengakselerasi perekonomian tahun ini. Yang jelas, penyebaran varian Omicron Covid-19 pada awal tahun ini berisiko mereduksi laju pertumbuhan perekonomian. Begitu juga potensi reduksi daya beli masyarakat yang berimplikasi pada tertahannya laju konsumsi rumah tangga, kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB).
Itu yang menjadi pekerjaan rumah, karena sepanjang tahun lalu pertumbuhan konsumsi masyarakat terpantau sangat rendah. BPS mencatat, konsumsi rumah tangga sepanjang tahun lalu hanya tumbuh di angka 2,02 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan level prapandemi yang berada di kisaran 5 persen.
Data ini merefleksikan bahwa daya beli masyarakat pada tahun kedua pandemi Covid-19 masih cukup rapuh. Adapun pada tahun ini, harapannya pemerintah mampu mengakselerasi konsumsi rumah tangga.
Pasalnya, konsumsi rumah tangga selama ini merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi dan memiliki porsi yang sangat besar terhadap PDB nasional. Laju pertumbuhan ekonomi tetap positif bila konsumsi rumah tangga terakselerasi dengan baik.
[indonesia.go.id]


Leave a Reply