Indonesia Melalui Gelombang Penularan Subvarian Omicron

Ilustrasi. Presiden Joko Widodo untuk mulai menjajaki vaksin corona bagi anak di bawah enam tahun atau bayi umur lima tahun (balita).ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Menjaga Imunitas

Apa yang sebenarnya disebut sebagai ujian di kurun enam bulan mendatang itu? Pada kesempatan yang sama, Menkes Budi pun mewanti-wanti ancaman munculnya varian baru. Pasalnya, dia melihat di beberapa negara di dunia, seperti di Eropa, Amerika, dan Jepang kasus konfirmasinya sangatlah tinggi. Diketahui, kasus di Eropa dan Amerika bahkan mencapai di atas 100 ribu. Sedangkan Jepang jumlahnya melebihi 200 ribu. Hal itu berpotensi memunculkan virus corona mutan yang baru.

“Kasus konfirmasi harian setinggi itu pasti akan mengakibatkan terjadinya mutasi dan timbulnya varian baru,” jelas Menkes Budi.

Lantaran itulah, Menkes meminta, masyarakat di tanah air senantiasa menjaga ketaatan atas prokes dan selalu berupaya meningkatkan imunitas. Terkait itu jugalah, dia menjelaskan bahwa pemerintah telah dan akan melakukan sejumlah langkah antisipatif.

“Dalam enam bulan mendatang, tingkat imunitas warga RI akan menjadi rendah karena proteksi dari vaksin Covid-19 bakal menurun seiring berjalannya waktu. Sehingga rencananya, November kita akan melakukan sero survei lagi untuk melihat daerah-daerah mana yang imunitasnya sudah menurun, kemudian orang-orang mana yang berisiko tinggi,” katanya.

Untuk kemudian, menurut Menkes Budi, rencananya di akhir tahun akan dilakukan vaksinasi terutama diarahkan kepada golongan yang memang rendah imunitasnya. Pada kesempatan itu, Menkes Budi bahkan mengaku sudah mendapatkan instruksi dari Presiden Joko Widodo untuk mulai menjajaki vaksin corona bagi anak di bawah enam tahun atau bayi umur lima tahun (balita).

“Salah satu inisiatifnya adalah Presiden Jokowi meminta vaksinasi untuk anak-anak di bawah enam tahun, nanti kita akan mulai jajaki,” ujar Menkes Budi.

READ  Motor Listrik Hadir Di Ibu Kota Kabupaten Asmat Sejak 2006

Kemungkinan besar pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk balita itu, menurut Menkes Budi, juga akan dimulai pada akhir 2022, seiring dengan pemberian vaksinasi lanjutan pada kelompok rentan, yakni lansia hingga orang dengan penyakit komorbid. “Vaksinasi bagi kelompok-kelompok yang lansia, yang komorbid, kemudian yang kadar imunitasnya sudah turun atau sudah lebih dari enam bulan, karena kita sudah tahu by name by address,” katanya.

Hingga kini, pemerintah juga terus menggencarkan kembali pemberian vaksinasi booster kedua, atau vaksinasi tahap 4, bagi kalangan tenaga kesehatan di Indonesia. Selain mendorong kelengkapan vaksinasi bagi masyarakat luas.

Tujuan dari seluruh langkah antisipatif itu, menurut Menkes Budi, agar antibodi yang dimiliki masyarakat saat ini tetap terbentuk dengan baik. Sehingga, sambung dia, bisa menjadi bekal untuk menghadapi jikalau ada varian baru di masa depan. “Kita segera berikan alternatif vaksin yang ada agar bisa meningkatkan kadar imunitasnya, untuk menjaga level imunitas populasi Indonesia, untuk menghadapi atau siap-siap pada awal tahun depan,” pungkasnya.

[Indonesia.go.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*