Menerima Tugas Tapi Tak Mengerjakannya; Apa Namanya?

<

“…. dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.” Matius 21:28-29

Dalam banyak tugas pelayanan dana tugas gerejawi, sangat kental dengan tugas dimana seseorang atau sekelompok orang harus mengerjakan tugas sesuai jabatan masing-masing.

Umumnya tugas yang diterima seseorang akan diteguhkan atau dilantik melalui penandatanganan “surat pakta integritas”, “surat kesediaan melayani”, “surat janji kesetiaan” dan sebagainya, bahwa seseorang atau sekelompok orang yang sudah menerima tugas dan jabatannya itu akan menyelesaikannya secara baik dan tuntas, penuh tanggung jawab dan siap berkorban.

Terlebih jika di gereja, selalu dipahami tugas-tugas pelayanan yang diberikan melalui suatu jabatan, adalah pilihan dan penetapan dari Tuhan Yesus melalui gerejaNya.

Namun, bukan kisah yang mengada-ada, ketika seseorang sudah menerima suatu jabatan dan tugas  dan sudah menandatanganinya, selalu mengecewakan, mengapa? Karena tugasnya diterima, kesediaannya dinyatakan, tetapi tugas-tugasnya tidak dikerjakan.

Hal ini sama dengan Matius 21:28-29, seorang anak yang diberi tugas pekerjaan menyanggupi perintah tersebut, tetapi ia tidak pergi dan artinya tidak mengerjakan tugasnya.

Yang harus diingat dan disadari oleh setiap orang Kristen yang telah menerima tugas suatu jabatan pelayanan, telah dilantik, disaksikan di hadapan jemaat dan di hadapan Tuhan, didoakan dan dilantik, ia sudah tahu bahwa tugas yang ia terima dan diketahui banyak orang wajib dijalankan.

Jika ia tidak mengerjakan tugas dengan seribu alasan (kecuali alasan sakit tentunya), biasanya alasan-alasan itu muncul setelah seseorang ditetapkan, diteguhkan, dilantik dan doakan sebagai pengurus, dan hal itu akan berdampak pada 4 hal besar:

  1. Tujuan dari visi organisasi yang harus dicapai, gagal tercapai.
  2. Hanya menjadi beban organisasi, namanya ada tetapi kerjanya nihil.
  3. Tidak menjadi kesaksian, hanya buat malu saja.
  4. Penghambat dalam gerakan organisasi, karenanya tugasnya harus dikerjakan oleh orang lain.
  5. Orang seperti ini, jelas tidak mempunyai “rasa memiliki”, “rasa tanggung jawab”.
READ  Kita Pegang Pena; Tuhan Pegang Penghapusnya

Mengapa? Karena umumnya, orang yang seperti ini kaget dan baru sadar, setelah jadi pengurus, jika pekerjaan yang harus ia kerjakan berat, penuh pengorbanan, menyita waktu, tidak popular, susah dan lain sebagainya.

Benar, pekerjaan apapun bukan sedang berdarmawisata!! Ingatlah!

Salam Injili

Pdt. DR. Ronny Mandang, MTh.

Ketum PGLII – Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*